KESIMPULAN BAB IKHLAS - KITAB RIYADHUS SHALIHIN

 



Ikhlas & Menghadirkan niat - Kesimpulan Bab Ikhlas


Perintah Allah kepada kita agar mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya

Allah Ta’aala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Jangan bangga dengan amal shalih, jangan pernah! karena Nabi kabarkan bahwa diantara kaum muslimin ada diantara mereka yang mendapat pahala meski tinggal dirumahnya tidak ikut berjihad. Karena niat yang ada dalam hati, dan terhalang untuk pergi

وعن أبي عبدِ اللهِ جابر بن عبدِ اللهِ الأنصاريِّ رضي الله عنهما قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم في غَزَاةٍ، فَقالَ: «إِنَّ بالمدِينَةِ لَرِجَالاً ما سِرْتُمْ مَسِيراً، وَلا قَطَعْتُمْ وَادِياً، إلا كَانُوا مَعَكمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ» . وَفي روَايَة: «إلا شَرَكُوكُمْ في الأجْرِ» . رواهُ مسلمٌ.

Dari Abu ‘Abdillah Jabir bin ‘Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Kami pernah keluar bersama Nabi ﷺ dalam sebuah peperangan. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang; tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan, dan tidak pula kalian melewati suatu lembah, kecuali mereka bersama kalian. Mereka terhalang (untuk ikut) karena sakit.’ Dalam riwayat lain: Kecuali mereka mendapatkan bagian pahala seperti kalian.’” (HR. Muslim)

Syaikh Faishal Alu Mubarok hafidzahullah:

في هذا الحديث: دليل على أن من صحت نيته، وعزم على فعل عمل صالح وتركه لعذر، أن له مثل أجر فاعله.

“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa siapa saja yang benar niatnya, bertekad melakukan amal salih namun tidak bisa melakukannya karena uzur, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang benar-benar melakukannya.” (Tathriz Riyadhus Shalihin hlm.13)

Allah menilai diri kita dari hati & amalan kita bukan ketampanan & banyaknya harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ، ولا إِلى صُوَرِكمْ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)

Syaikh Faishal Alu Mubarok hafidzahullah:

في هذا الحديث: الاعتناء بحال القلب وصفاته، وتصحيح مقاصده، وتطهيره عن كل وصف مذموم؛ لأن عمل القلب هو المصحح للأعمال الشرعية، وكمال ذلك بمراقبة الله سبحانه وتعالى.

“Dalam hadis ini: terdapat penekanan untuk memperhatikan keadaan hati dan sifat-sifatnya, meluruskan niat-niatnya, serta membersihkannya dari setiap sifat tercela; karena amalan hati-lah yang membuat amalan syariat menjadi sah. Kesempurnaan hal itu dicapai dengan selalu merasa diawasi oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.”. (Tathriz Riyadhus Shalihin hlm.14)

Allah melipatgandakan kebaikan kita bukan karena nominal yang kita beri, tapi justru karena keikhlasan dalam hati

Diantara amalan yang membuat pahala semakin berat ditimbangan adalah ke masjid tidak ada pendorong yang mengantarmu kesana kecuali karena ingin shalat

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

«صَلاةُ الرَّجلِ في جمَاعَةٍ تَزيدُ عَلَى صَلاتهِ في بيتهِ وصلاته فِي سُوقِهِ بضْعاً وعِشرِينَ دَرَجَةً، وَذَلِكَ أنَّ أَحدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضوءَ، ثُمَّ أَتَى المَسْجِدَ، لا يَنْهَزُهُ إِلا الصَلاةُ، لا يُرِيدُ إلا الصَّلاةَ: لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بها خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ المَسْجِدَ، فإِذا دَخَلَ المَسْجِدَ كَانَ في الصَّلاةِ مَا كَانَتِ الصَّلاةُ هِي تَحْبِسُهُ، وَالمَلائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ في مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيهِ، مَا لَم يُؤْذِ فيه، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ» .

“Shalat seseorang secara berjamaah itu lebih utama dibandingkan shalatnya di rumah atau di pasarnya dengan keutamaan sekitar dua puluh sekian derajat.

Hal itu karena salah seorang dari mereka apabila berwudhu lalu memperbagus wudhunya, kemudian datang ke masjid, dan tidak ada yang mendorongnya kecuali shalat, tidak menginginkan kecuali shalat, maka dia tidak melangkahkan satu langkah pun kecuali diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan hingga ia masuk ke dalam masjid.

Apabila ia telah masuk masjid, maka ia dihitung berada dalam keadaan shalat selama shalat itulah yang menahannya (untuk tetap tinggal di masjid).

Dan para malaikat mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat shalatnya, selama ia tidak mengganggu (orang lain) di dalamnya, dan selama ia tidak berhadats. Malaikat berkata: ‘Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Ibnul Mubarok -rahimahullah- pernah berkata :

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Jami’ Ulum wal Hikam 1/29)

Ikhlas itu tidak hanya mendatangkan pahala berlipat, juga memberi solusi dari masalah, dan jalan keluar dari kesulitan yang berat

Kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua karena tertutup batu besar, masing-masing menyebutkan amal shalihnya dan perlahan batu itu bergeser dan akhirnya terbuka semua

Pertama: Menyebutkan amal shalih yaitu berbakti kepada kedua orang tuanya

Kedua : Menahan diri dari dosa zina didepan mata

Ketiga : Menunaikan amanah yang ditanggungnya

Syaikh Faishal Alu Mubarok -hafidzahullah- :

في هذا الحديث: فضل الإخلاص في العمل، وأنه ينجي صاحبه عند الكرب.

“Dalam hadis ini: terdapat keutamaan ikhlas dalam beramal, dan bahwa ikhlas itu akan menyelamatkan pemiliknya ketika berada dalam kesulitan.””. (Tathriz Riyadhus Shalihin hlm.19)

Abu Bakar tidak menyaingi kita dalam hal banyaknya shalat, puasa atau sederet kebaikan lainnya, namun beliau terdepan dalam ibadah hati serta keyakinan itulah keimanan

Berkata Bakr Al-Muzani -rahimahullah- : 

ما سبقكم أبو بكر بكثرة صوم ولا صلاة ولكن بشيء وقر في قلبه

"Tidaklah Abu Bakar mengungguli kalian dengan banyaknya puasa dan tidak pula dengan shalat, tetapi dengan sesuatu yang menancap dengan kokoh di dalam hatinya." (Lathaiful Ma'arif)