25 Kejadian Dalam Hidup Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (Bag 8 - 12)
8. Perjalanan Dagang ke Syam & Pertemuan Dengan Pendeta Buhaira
Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
وخرج به عمه إلى الشام في تجارة وهو ابن ثنتي عشرة سنة، وذلك من تمام لطفه به، لعدم من يقوم إذا تركه بمكة، فرأى هو وأصحابه ممن خرج معه إلى الشام من الآيات فيه صلى الله عليه وسلم ما زاد عمه في الوصاة به والحرص عليه، كما رواه الترمذي في جامعه بإسناد رجاله كلهم ثقات، من تظليل الغمامة له وميل الشجرة بظلها عليه، وتبشير بحيرا الراهب به، وأمره لعمه بالرجوع به لئلا يراه اليهود فيرمونه سوءاً، والحديث له أصل محفوظ وفيه زيادات أخر
“Kemudian pamannya membawa beliau keluar menuju Syam untuk berdagang ketika beliau berusia dua belas tahun. Itu merupakan bentuk kelembutan dan penjagaan pamannya terhadap beliau, karena tidak ada yang mengurus beliau jika ditinggal di Makkah. Maka paman beliau dan para sahabat yang ikut bersamanya melihat berbagai tanda pada diri beliau ﷺ yang semakin menambah perhatian dan penjagaan pamannya terhadap beliau.
Sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Jami‘-nya dengan sanad para perawinya yang semuanya tsiqah, yaitu: naungan awan terhadap beliau, pohon yang condong menaungi beliau, kabar gembira dari pendeta Buhaira tentang kenabian beliau, serta perintah Buhaira kepada pamannya agar kembali membawa beliau ke Makkah karena khawatir orang-orang Yahudi melihat beliau dan berbuat buruk kepadanya. Hadits ini memiliki dasar riwayat yang kuat, meskipun di dalamnya terdapat tambahan-tambahan lainnya.” (Al-Fushul min Sirotir Rosul 94)
Adapun Imam Adz Dzahabi melemahkan riwayat ini
9. Perjalanan dagang ditemani Maisarah
Safar dagang kedua Nabi, dan kembali dengan keuntungan
ثم خرج ثانياً إلى الشام في تجارة لخديجة بنت خويلد رضي الله تعالى عنها مع غلامها ميسرة على سبيل القراض، فرأى ميسرة ما بهره من شأنه، فرجع فأخبر سيدته بما رأى، فرغبت إليه أن يتزوجها، لما رجت في ذلك من الخير الذي جمعه الله لها، وفوق ما يخطر ببال بشر، فتزوجها رسول الله صلى الله عليه وسلم وله خمس وعشرون سنة.
“Kemudian beliau keluar (bepergian) untuk kedua kalinya menuju Syam dalam rangka berdagang untuk Khadijah binti Khuwailid radhiyAllahu ‘anha bersama budaknya, Maisarah, dengan sistem qirādh (bagi hasil). Lalu Maisarah melihat pada diri beliau sesuatu yang membuatnya takjub dari berbagai keadaannya. Ia pun pulang dan mengabarkan kepada tuannya (Khadijah) apa yang ia lihat. Maka Khadijah pun tertarik untuk menikah dengannya, karena berharap kebaikan yang Allah kumpulkan baginya — kebaikan yang melebihi apa pun yang biasa terlintas di benak manusia. Maka Rasulullah ﷺ pun menikahinya ketika beliau berusia dua puluh lima tahun.” (Al Fufhul Fi Sirotir Rosul hlm.95)
3 Pelajaran Mengetahui Akhlaq seseorang
Kamu akan mengenal seseorang saat berurusan dengannya dalam hal uang, safar, bertetangga
Umar bin Al Khathab radhiyAllahu ‘anhu dalam sebuah riwayat ingin mengetahui akhlaq seseorang
وقد شهد رجل عند عمر رضي الله عنه، فقال: من يزكيك؟ قال رجل: أنا.
فقال: هل سافرت معه؟ فقال: لا. قال: عاملته بالدِّرهم والدينار؟ قال: لا. قال: والله الذي لا إله إلا هو ما أعرفه.
فالسفر هو الذي يكشف حقيقة الرجل، ويظهر خفاياه، ولذلك فالداعية يأخذ من أناة خديجة رضي الله عنها — درساً دعوياً مفيداً في التأني وعدم العَجَلة.
Pernah ada seorang laki-laki memberikan kesaksian di hadapan Umar ra. Maka Umar bertanya: “Siapa yang bisa merekomendasikanmu?”
Seorang pria berkata, “Saya.”
Umar bertanya kembali:
“Apakah engkau pernah bepergian bersamanya?”
Ia menjawab, “Tidak.”
“Apakah engkau pernah bertransaksi dengannya menggunakan dirham dan dinar?”
Ia menjawab, “Tidak.”
Umar berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, engkau sama sekali tidak mengenalnya.”
Karena bepergianlah yang dapat menyingkap hakikat seseorang dan menampakkan apa yang tersembunyi darinya. Maka seorang da’i dapat mengambil pelajaran dari sikap tenangnya Khadijah radhiyallahu ‘anha — sebuah pelajaran dakwah yang sangat bermanfaat tentang kehati-hatian dan tidak tergesa-gesa. (Fiqhus Siroh hlm 92)
10. Pernikahan beliau dengan Khadijah
Khadijah pernah menikah 2 kali, sebelum menikah dengan Nabi ﷺ
Usia Nabi Muhammad kala itu adalah 25 th
Sementara Usia Khadijah 40 th (ini pendapat yang lebih kuat)
Keistimewaan Khadijah radhiyAllahu ‘anhu
Nabi dianugerahi kecintaan kepada Khadijah
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: « مَا غِرْتُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَّا عَلَى خَدِيجَةَ، وَإِنِّي لَمْ أُدْرِكْهَا. قَالَتْ: وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا ذَبَحَ الشَّاةَ فَيَقُولُ: أَرْسِلُوا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ! قَالَتْ: فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ: خَدِيجَةَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا ».
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
"Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi ﷺ seperti kecemburuanku kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah bertemu (hidup sezaman) dengannya."
Ia berkata lagi:
"Setiap kali Rasulullah ﷺ menyembelih kambing, beliau berkata: 'Kirimkanlah (sebagian dagingnya) kepada para sahabat Khadijah!'"
‘Aisyah berkata:
"Suatu hari aku membuat beliau marah, lalu aku berkata (dengan nada cemburu): 'Khadijah?!'
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku telah diberi rezeki berupa cinta kepadanya." (HR. Muslim)
Allah memberi salam kepadanya
أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ، فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عز وجل وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ».
Jibril datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata:
"Wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang kepadamu, bersamanya ada sebuah bejana yang berisi lauk-pauk, atau makanan, atau minuman. Jika ia telah datang kepadamu, maka sampaikanlah salam kepadanya dari Rabb-nya ‘Azza wa Jalla dan dariku. Dan berikanlah kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga, yang terbuat dari mutiara (qasab), yang tidak ada kebisingan di dalamnya dan tidak ada keletihan.” (HR. Muslim)
Biografi lengkap Khadijah disini
11. Anak-anak Nabi dari Khadijah & yang wafat
Siapa saja anak-anak Nabi dari Khadijah
Ada Al-Qosim, dengannya beliau diberi kunyah Abul Qosim & 4 anak perempuan
Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Fathimah (Sepakat bahwa anak perempuan tertua adalah Zainab, adapun yang paling muda berselisih)
- Ummu Kultsum
- Fathimah (dan ini yang lebih dekat)
Seluruh anak Nabi wafat sebelum beliau, kecuali Fathimah
وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم سِتَّةَ أَشْهُرٍ،
"Dan ia (fatimah) hidup selama enam bulan setelah Rasulullah ﷺ." (HR. Muslim)
12. Peletakan Hajar Aswad
Pada saat Nabi berusia 35 th, Ka’bah sempat terjadi banjir besar dan meruntuhkan pondasi-pondasi Ka’bah, Mereka bermusyawarah dipimpin oleh Al Walid, dan aneh bin ajaibnya, ketika mereka sepakat merobohkan Ka’bah dan membangunnya kembali mereka tidak iuran kecuali dari harta yang baik, bukan dari upah untuk pelacur, bukan dari transaksi riba’ atau hasil dari mendzalimi manusia
(Lihat Sirah Ibnu Hisyam)
Nabi ﷺ pun ikut serta dalam pembangunan Ka’bah
جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قَالَ: لَمَّا بُنِيَتْ الْكَعْبَةُ، ذَهَبَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَعَبَّاسٌ يَنْقُلَانِ الْحِجَارَةَ، فَقَالَ عَبَّاسٌ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: (اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ يَقِيكَ مِنَ الْحِجَارَةِ، فَخَرَّ إِلَى الْأَرْضِ، وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: (إِزَارِي إِزَارِي). فَشَدَّ عَلَيْهِ إِزَارَهُ.
Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata:
Ketika Ka'bah dibangun, Nabi ﷺ dan Al-‘Abbas membawa batu-batu.
Lalu Al-‘Abbas berkata kepada Nabi ﷺ:
“Letakkan sarungmu di atas lehermu agar melindungimu dari batu.”
Maka beliau pun jatuh tersungkur ke tanah, dan pandangannya mengarah ke langit.
Kemudian beliau siuman dan berkata:
“Sarungku! Sarungku!”
Maka beliau pun segera mengikat sarungnya kembali (menutup auratnya). (HR. Bukhari)
Ketika sampai pada peletakan hajar aswad, mereka berselisih siapa yang akan meletakkannya, setiap kabilah ingin andil dalam bagian terpenting dan mulia ini
Kemudian Allah Subḥānahu wa Ta'ālā mengilhamkan kepada mereka agar memuliakan orang yang paling tua di antara mereka, yaitu Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi.
Ia berkata:
“Wahai kaum Quraisy, jadikanlah orang pertama yang masuk (ke Masjid Al-Haram) sebagai penengah di antara kalian dalam hal yang kalian perselisihkan.”
Maka mereka pun rela dan menyetujuinya, lalu mulai menunggu siapa yang pertama kali masuk.
Ternyata orang pertama yang masuk adalah Muhammad ﷺ.
Ketika mereka melihatnya, mereka berkata:
“Ini dia Al-Amīn (yang terpercaya)! Kami rela (diputuskan) oleh Muhammad.”
Lalu beliau ﷺ mendatangi mereka. Setelah mereka mengabarkan (perselisihan) kepada beliau, beliau meminta agar dibawakan sebuah kain.
Kemudian beliau ﷺ membentangkan kain itu, lalu meletakkan Hajar Aswad di tengah kain tersebut.
Setelah itu beliau berkata:
“Hendaknya setiap kabilah memegang salah satu ujung kain.”
Mereka semua pun bersama-sama mengangkat kain itu hingga sampai ke tempatnya.
Ketika sudah mendekati posisi pemasangan, Nabi ﷺ mengambil Hajar Aswad dengan tangannya, lalu meletakkannya pada tempatnya.
Dengan cara itulah Allah menyelamatkan Quraisy dari perang besar yang hampir terjadi di antara mereka. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam)
“(Bangunan Ka‘bah) yang dahulu dibangun oleh Ibrahim ‘alaihissalām.
Kemudian mereka (Quraisy) terpaksa mengurangi bagian darinya, lalu mereka membangun di atas bagian utara yang mereka tinggalkan itu sebuah dinding pendek, untuk menunjukkan bahwa bagian itu termasuk dari bangunan Ka‘bah.”
“(Bagian itu) sekarang dikenal dengan al-Ḥijr.
Dan mereka meninggikan pintu Ka‘bah dari permukaan tanah, serta mengurangi sedikit dari bagian timurnya, yaitu yang sekarang dikenal dengan asy-Syādzarwān.”
.png)

